EN/ID
Hubungi Kami

Beranda / Tentang / Pendekatan

Pendekatan kami

Tiga pendekatan yang saling melengkapi dalam setiap program: data ekologi sebagai dasar keputusan, solusi yang memanfaatkan fungsi ekosistem, dan perhatian pada sistem sosial yang menopang ekosistem tersebut.

Pengamatan satwa di lapangan
Pengamatan satwa di lapangan

Ecology-based

Setiap intervensi berangkat dari data lapangan. Sebelum menentukan jenis intervensi, kami menyusun data dasar (baseline) keanekaragaman hayati dan kondisi fisik tapak, seperti elevasi, hidrologi, substrat, dan kualitas perairan. Pemantauan berkala dengan indikator yang ditetapkan sejak awal digunakan untuk menilai apakah intervensi berjalan sesuai tujuan, dan untuk menyesuaikannya bila tidak (pengelolaan adaptif).

Kapan restorasi dianggap berhasil?

Menurut SER (2004), ekosistem dianggap pulih ketika memiliki sumber daya biotik dan abiotik yang cukup untuk terus berkembang tanpa bantuan atau subsidi lanjutan. Standar internasional restorasi ekologi (Gann dkk., 2019) menilai pemulihan terhadap ekosistem acuan melalui enam atribut: bebas dari ancaman, kondisi fisik, komposisi jenis, keragaman struktur, fungsi ekosistem, dan pertukaran dengan lanskap sekitarnya. Karena itu kami mengukur keberhasilan dari keanekaragaman hayati, struktur vegetasi, dan proses ekologis (Ruiz-Jaen & Aide, 2005), bukan dari jumlah bibit yang ditanam.

Dalam praktik

  • Kajian dan pemantauan keanekaragaman hayati: flora, fauna, terumbu karang, dan kualitas perairan
  • Kajian kesesuaian tapak sebelum restorasi
  • Pemantauan pascaintervensi dan penyesuaian rancangan
  • Publikasi ilmiah hasil kajian, atas izin pemilik data

Contoh program

Coastal and Marine Biodiversity Reserve Lembung Paseser →Transplantasi Karang Gili Genting →Miyawaki Forest PEPC JTB →

Oyster castle terpasang saat air surut
Oyster castle terpasang saat air surut

Nature-based Solutions

“Restoring a landscape is less about technical solutions and more about cultivating the right relationships. You don’t need to control everything – just create the conditions for others to contribute, connect, and grow.”
— Elvira Marín, Landscape Developer, Commonland

Terjemahan bebas: Memulihkan lanskap lebih merupakan soal menumbuhkan hubungan yang tepat daripada soal solusi teknis. Kita tidak perlu mengendalikan segalanya; cukup ciptakan kondisi agar yang lain dapat berkontribusi, terhubung, dan tumbuh.

Solusi berbasis alam (nature-based solutions) adalah tindakan melindungi, mengelola secara berkelanjutan, dan memulihkan ekosistem alami maupun termodifikasi untuk menjawab tantangan masyarakat (societal challenges) secara efektif dan adaptif, misalnya abrasi pesisir, sekaligus memberi manfaat bagi keanekaragaman hayati dan kesejahteraan manusia (IUCN, 2020). Rancangan kami disesuaikan dengan karakteristik tapak, dan efektivitasnya dinilai melalui pemantauan, bukan diasumsikan.

Kami membacanya juga secara ekologis. Intervensi teknis tetap dibutuhkan, tetapi kami rancang sebagai pemicu, bukan hasil akhir: struktur yang meredam gelombang dan menahan sedimen menciptakan kondisi bagi tiram, mangrove, dan biota lain untuk datang, saling terhubung, dan tumbuh (Chowdhury dkk., 2021).

Dalam praktik

  • Struktur terumbu tiram POSH (Pervious Oyster Shell Habitat) dari limbah cangkang tiram di zona intertidal
  • Oyster castle rancangan Agrie Conservation sendiri, terinspirasi unit terumbu tiram modular yang dikembangkan Allied Concrete Company bersama The Nature Conservancy di Virginia, Amerika Serikat (2007); dijalankan sebagai program mandiri
  • Struktur permeabel (hybrid engineering) dari tiang bambu berisi ranting untuk meredam gelombang dan memerangkap sedimen sebelum penanaman mangrove
  • Restorasi mangrove berdasarkan kajian kesesuaian tapak

Contoh program

ORCCA — Oyster Reef Mengare →Oyster Castle Mengare →PRPM Mengare →

Pembuatan kotak lebah bersama warga
Pembuatan kotak lebah bersama warga

Social-Ecological Systems

Ekosistem tidak dapat dipisahkan dari masyarakat yang memanfaatkan dan mengelolanya. Kami menganalisis keterkaitan sistem sumber daya, pengguna, dan tata kelola sebagai satu sistem sosial-ekologis, merujuk pada kerangka Ostrom (2009). Perhatian utamanya adalah kelembagaan lokal, aturan pemanfaatan, dan aksi kolektif yang menentukan keberlanjutan hasil kegiatan setelah program berakhir.

Dalam praktik

  • Pendampingan Peraturan Desa Lembung Paseser tentang pengelolaan kawasan pesisir dan laut
  • Pembentukan Pokdarwis dan forum pemantauan bersama para pemangku kepentingan di Kali Lamong
  • Budi daya tiram dan kerang bersama Pokmaswas Tanjung Widoro
  • Kajian persepsi masyarakat Mengare terhadap ekosistem pesisir

Contoh program

Coastal and Marine Biodiversity Reserve Lembung Paseser →Kalam Mangrove →Mengare Discovery →

Rujukan: Chowdhury, M.S.N. dkk. (2021). Ecological engineering with oysters enhances coastal resilience efforts. Ecological Engineering 169: 106320. · Gann, G.D. dkk. (2019). International principles and standards for the practice of ecological restoration, 2nd ed. Restoration Ecology 27(S1): S1–S46. · IUCN (2020). IUCN Global Standard for Nature-based Solutions. Gland: IUCN. · Ostrom, E. (2009). A general framework for analyzing sustainability of social-ecological systems. Science 325(5939): 419–422. · Ruiz-Jaen, M.C. & Aide, T.M. (2005). Restoration success: how is it being measured? Restoration Ecology 13(3): 569–577. · SER (2004). The SER International Primer on Ecological Restoration. Tucson: Society for Ecological Restoration International.