In Indonesian.
Pemandu menyodorkan selembar daun mangrove kepada anak-anak yang berkerumun di jembatan. Anak-anak mencicipi permukaannya. Rasanya asin.
Garam itu dikeluarkan oleh tumbuhannya sendiri. Api-api (Avicennia) tumbuh di perairan bergaram dan membuang kelebihan garam melalui kelenjar pada daunnya. Dari selembar daun, anak-anak belajar cara mangrove bertahan hidup di air asin.
Pada Sabtu, 31 Oktober 2026, Gresik Naturalist mengajak 15 anak berusia 5–7 tahun bersama orang tua mereka ke Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove (PRPM) Mengare di Desa Tanjung Widoro, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik. Kegiatan Mengare Discovery for Kids ini berlangsung dari pagi hingga siang hari. Setelah mencicipi daun, anak-anak menanam bibit api-api (Avicennia marina), lalu naik perahu menyusuri sungai.


Pesisir yang pernah tergerus
Dari jembatan, riwayat tempat ini tidak terlihat. Kawasan ini dulu berupa tambak warga yang tergerus abrasi. Restorasi dimulai pada 2018. Sejak itu tutupan mangrove bertambah, dan kawasan yang dulu rusak sekarang dipakai untuk belajar tentang ekosistem pesisir dan laut.
Penanaman dalam kegiatan ini ditempatkan sebagai sarana belajar. Dalam restorasi mangrove, menanam bukan langkah pertama. Mangrove dapat tumbuh kembali dengan sendirinya bila kondisi kawasan mendukung, terutama elevasi lahan, aliran pasang surut, dan pasokan propagul dari tegakan di sekitarnya. Banyak program penanaman mangrove gagal karena bibit ditanam di lokasi yang kondisinya tidak sesuai (Lee dkk., 2019). Keberhasilan restorasi semestinya diukur dari tutupan dan fungsi kawasan, bukan dari jumlah bibit yang ditanam (Holl & Brancalion, 2020).
Dari sisi sungai
Di atas perahu, anak-anak melihat tepian mangrove dan dataran lumpur yang terbuka saat air surut. Mereka mengamati glodok, ikan yang mampu hidup di luar air dan merayap di lumpur saat surut. Mereka juga melihat burung air dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dari dekat. Seorang anak berhasil menangkap udang dari atas perahu.


Mengapa mengajak anak usia dini
Gresik Naturalist berpegang pada pandangan bahwa alam milik semua orang dan harus terbuka bagi siapa saja. Gresik masih memiliki habitat yang terjaga dan layak dijadikan ruang belajar. Gresik Naturalist berharap pengalaman di alam sejak usia dini membuat anak-anak Gresik tumbuh dekat dengan alam dan peduli terhadapnya. Rasa asin di ujung lidah mungkin lebih lama diingat daripada penjelasan di ruang kelas.

Mengare Discovery merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Petrokimia Gresik. Kegiatan yang diselenggarakan Gresik Naturalist ini didukung oleh Danantara Indonesia, PT Pupuk Indonesia, dan PT Petrokimia Gresik; Pokmaswas dan Pokdarwis Tanjung Widoro; Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik dan Pemerintah Desa Tanjung Widoro; serta Ecosains Indonesia. Paket kegiatan di PRPM Mengare dapat dilihat di mangrovemengare.com.
Rujukan: Holl, K.D. & Brancalion, P.H.S. (2020). Tree planting is not a simple solution. Science 368(6491): 580–581. · Lee, S.Y., Hamilton, S., Barbier, E.B., Primavera, J. & Lewis, R.R. (2019). Better restoration policies are needed to conserve mangrove ecosystems. Nature Ecology & Evolution 3: 870–872.
